Selamat Datang Di Blogg Resmi Jam'iyyah Al Ittihadiyah --- KHUSUS UNTUK BULETIN DA'I AL ITTIHADIYAH ---

Selasa, 14 Mei 2013

HIDUP ISLAMI BERBASIS AL– FATIHAH
Al Fatihah adalah surat yang begitu mulia yang diturunkan ALLAH. Al Fatihah berarti “pembuka”,dinamakan juga As Sab’ul Matsani (tujuh yang berulang) karena selalu dibaca berulang minimal 17 kali dalam sehari semalam.
Sebagai seorang muslim tentulah kita harus berusaha untuk menjalani hari- hari kita dengan hal- hal yang sesuai dengan tuntunan islam. Kebiasaan- kebiasaan islami berbasis ayat-ayat yang ada dalam surat Al Fatihah, yaitu :


1. Bismillaahirrohmanirrohiim (dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Dapat diintisarikan bahwa dalam memulai setiap hal harus dengan menyebut asma ALLAH, bearti kita melakukan hal tersebut harus niat karena ALLAH atau lillahi ta’ala.
“setiap perkara yang tidak dibuka dengan Bismillaahirrohmaanirrohiim akan terpotong”
2. Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin (segala puji bagi ALLAH Tuhan semesta alam)
Kita harus bersyukur atas setiap hal yang ada pada diri kita, atau setiap keadaan dan hal yang kita alami. Yakin bahwa semua itu pasti yang terbaik untuk kita.
3. Arrahmaanirrahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Mengedepankan dilubuk hati bahwa Allah senantiasa mendahulukan kasih sayangNYa dalam memilih dan menetapkan setiap perkara.
4. Maaliki yaumiddiin (DIA adalah penguasa dihari kemudian)
Senantiasa mengingat mati, hari kiamat, hari pembalasan.  Sehingga apa yang kita kerjakan harus diorientasikan untuk tujuan akhirat.
5. Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin (hanya kepadaMU kami menyembah dan hanya kepadaMU kami mohon pertolongan)
Tujuan hidup kita adalah untuk melaksanakan ibadah kepada ALLAH. Ibadah kita hanya untuk memperoleh perhatian dan penilaian dari ALLAH, bukan dari manusia.
6. Ihdinasshiraathal mustaqiim (Ya ALLAH, tunjukilah, bimbing dan teguhkan kami dijalan yang lurus)
Perjalanan hidup kita didunia akan berakhir di titik kematian, maka kita harus menyiapkan bekal  untuk kematian tersebut. Memohon pada ALLAH agar senantiasa berada dalam petunjuk dan hidayahNYA.
7. Shiraathalladzina an’amta ‘alaihim ghairilmaghdzuubi’alaihim waladdzoolliin (yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat pada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat)
Kita harus bercermin pada orang lain agar kita mendapat pelajaran untuk memperbaiki diri kita. Bercermin pada orang-orang shalih, manusia-manusia pilihan ALLAH, lalu meneladani mereka.
WALLAHU ‘ALAM….

Disaat akhir kehidupan Imam Syafi’i, murid kesayangan beliau, Imam Muzani masuk untuk menjenguk gurunya.
Imam Syafi’i menangis, dan bersenandung merintih penuh harapan, seolah– olah beliau lah hamba ALLAH yang paling hina.
Betapa beliau mengharap ridha ALLAH dengan penuh tunduk kepada penciptanya.
Tidak lama kemudian, Al Imam dengan penuh syahdu menghembuskan nafasnya yang terakhir disamping Imam Muzani.
Untuk kenangan bagi generasi yang akan datang, setiap patah kata dari gurunya dengan teliti dicatat. Kalimat demi kalimat.....
Agar dunia mengenang dan menyaksikan, betapa jiwa yang agung ini merintih kehadirat Tuhan Yang Maha Tinggi.
Syair terakhir yang penuh syahdu lahir dari jiwa yang bersih dan merindui Tuhan Yang Maha Perkasa...

Kalam dari lisan Al Imamud dunia, As Syafi’i...

اِلَيْكَ اِلَهَ الْخَلْقِ اَرْفَعْ رَغْبَتِي    وَاِنْكُنْتُ يَا دَالْمَنّ وَالْجُوْدِ مُجْرِمَا   
Kupersembahkan padaMu Tuhan sekalian makhluk, harapanku. Sekalipun aku seorang yang berdosa, wahai yang Maha pemberi dan Pemurah
وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَ ظَقَتْ مَذَا هِبِي      جَعَلْتُ الّرَجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمَا   
Tatkala keras hatiku dan sesak perjalanan hidupku. Kujadikan rayuan dariku sebagai jalan mengharap ampunanaMu
فَمَازِلْتَ ذَاعَفُوٍ عَنِ الذَّنْبِي لَمْ تَزَلْ         تَجُوْدُ وَتَعْفُوْ مِنَّةَ وَتَكَرُّمَا      
Maka bilamana Engkau memiliki ampunan dan menghapuskan dosa yang berkelanjutan ini. karuniaMu dan ampunanMu adalah rahmat dan kemuliaan
اَلَسْتَ ا لَّذِ رَغَبَيْتَنِي وَهَدَيْتَنِي           وَلَازِلْتَ مَنَّانًا عَلَىّ وَمُنْعِمَا           Bukankah Engkau yang memberi aku makan dan hidayah padaku. Dan janganlah Engkau hapuskan karunia anugrah dan nikmat itu dariku 
عَسَى مَنْ لَهُ لْإِحْسَانِ يَغْفِرْ زَلّتِي       وَيَسْتُرُ اَوْزَرِي وَمَا قَدْ تَقَدَّ مَا  

Semoga orang yang memeiliki ihsan mengampuni kesalahanku . Dan menutup dosaku dan perkara yang telah lalu
فَإِنْ تَعْفُ عَنِّي تَعْفُ عَنِّي مُتَمَرّدِ           ظَلُومٍ غَشُومٍ لَايُزَإِلُ مَأ ثَمَا
Sekiranya Engkau ampuni aku, ampunilah dari kedurhakaan. Kezaliman, penganiayaan yang tidak akan terhapus di hari penghimpun kesedihan.
وإنْ تَنْتَقِمْ مِنّي فَلَسْتُ بِايْسٍ         وَلَوْ أَدْخُلُوْ نَفْسِي بِجُرْمِ جَهَنَّما   
Dan jika Engkau membalas siksa terhadapku, aku tidak akan berputus asa. Sekalipun dosa-dosaku itu memasukkan aku kedalam neraka.
فَصِيْحًا إِذَا كَنَا فِي ذِكْرِ رَبّه      وَفِي مَا سِوَاهُ فِى الْوَرَى كَانَ اَعْجَمَا 
Dia adalah seorang yang fasih dalam menyebut Tuhannya. Dan bilamana dia bersama selain Tuhannya didunia ini, dia membisu.
يَقُوْلُ حَبِيْبِي أَنْتَ سُؤلِى وَبُغْيَتِى        كَفَى بِكَ لِلرَا جِيْنَ سُؤلًا وَمَغْنَمَا  
Dia berkata : kekasihku, Engkaulah tempatku meminta dan berharap. Cukuplah Engkau bagi yang berharap, sebagai tempat bergantung dan memohon.
اَصُوْنَ وِدَادِي أَّنْ يُدَ نّسَهُ الْهَوَى      وَاَحْفَظُ عَهْدَ الْحُبّ اَنْ يَتَثَلَّمَا   
Kupelihara kasihku yang dicemari nafsu. Dan aku jaga janji kasih yang telah terucap.
فَفِي يَقْظَتِي شَوْقً وَفِي غَفْوَتِي مُنًى     تِلَا حَقُ خَطْوِى نَشْوَةَ وَتَرْنُمَا  
Disaat terjaga, aku rindu dan disaat terlelap, aku berharap. Mengiringi langkahku dengan penuh semangat dan berulang-ulang.
فَجُرْمِيَ عَظِيْمِ مِنْ قَدِيْمٍ وَحَدِثٍ      وَعَفْوُكَ يَأتِي الْعَبْدَ أَعْلَى وَأَجْسَمَا  
Maka dosaku adalah besar dari dulu dan kini. Sedang ampunanMu yang mendatangi hamba adalah lebih agung dan lebih mulia.

CATATAN ULAMA AHLI HADITS TENTANG WALI ALLAH

“Ingatlah, sesungguhnya wali- wali Allah itu tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan didunia dan (didalam) mehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat- kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan  yang besar”. (QS. Yunus : 62-64)
Siapakah Wali Allah?

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya diantara hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan nabi dan bukan syuhada. Mereka dikelilingi para nabi dan syuhada dihari kiamat karena kedudukannya disisi Allah.
Dan para sahabat bertanya :”Wahai Rasulullah, kabarkan kepada kami siapa mereka?” Rasulullah menjawab:”mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah (ulama menafsiri ‘Al
quran) tanpa hubungan keluarga antara mereka dan tanpa uang yang diberikan kepada mereka. Demi Allah sungguh wajah mereka dan mereka diatas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia mengalami ketakutan. Mereka tidak susah saat manusia diterpa kesusahan. Lalu Rasulullah membaca, “ingatlah, sesungguhnya wali- wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereeka bersedih hati”. (HR. Abu Dawud no. 3527, dari Umar Bin Khatab)
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, saat haji wada’ (perpisahan) “Sesungguhnya para wali Allah itu adalah orang- orang yang mendirikan sholat 5 waktu yang diwajibkan bagi mereka , berpuasa ramadhan dengan mengharap pahala dan memenuhi kewajiban, memberikan zakat hartanya dengan mengharap pahala, dan menjauhi dosa besar yang dilarang oleh Allah” (HR. Hakim no. 7666 dan ia menilai shahih dan disetujui oleh Al- Dzahabi).
Dalam hadis qudsi Rasulullah SAW bersabda :  “sesungguhnya Allah berfirman : barang siapa memusuhi seorang wali, maka aku mengizinkan berperang. Tidak ada seorang hamba  yang mendekatkan diri kepadaKu yang lebih aku cintai daripada hal-hal yang aku wajibkan padanya. Dan hambaku tiada berhenti mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangan yang dipikulnya, langkah kakinya, dan jika ia meminta, maka sungguh Aku kabulka, dan jika ia berlindung kepadaKu, niscaya Aku lindungi” (HR. Bukhari)

Hadits Wali Badal
Al –Hafidz As- Suyuthi berkata : “Penjelasan tentang wali badal tidak ada dalam kutubus sittah (6 kitab hadits): Bukhari, Muslim, Musanad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Sunan An- Nasai, dan Sunan Ibnu Majah. Kecuali satu hadits riwayat Abu Dawud (no. 3737) dan diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya Shahih (dan riwayat Ahmad no. 27446). Namun ada banyak hadits tentang wali badal yang diriwayatkan oleh selain 6 kitab hadits tersebut”( ‘Aun al- Ma’bud syarah Sunan Abu Dawud 9/322)
Al- Hafidz Ibnu Hajar mengkritik terhadap Al- Hafidz Ibnu Jauzi yang memasukkan hadits- hadits tentang keberadaan wali badal (pengganti) kedalam kategori “al maudluat”( hadits- hadits palsu). Al Hafidz Ibnu Hajar justru memberikan penilaian sebaliknnya yaitu  sebuah hadits : “Wali badal berada di syam. Mereka 40 orang laki-laki. Setiap ada yang meninggal dari mereka maka Allah menggantikannya dengan orang lain. Dengan merekalah manusia diberi hujan dan dengan mereka pula manuria diberi pertolongan dari  para musuh”. (al Qoul Al- Musaddad 1/82, para

perawinya shahih, kecuali Suraih, ia tsiqah).
Para ahli hadits juga banyak menyebutkan wali badal, baik secara criteria maupun perorangan . inilah bentuk konsistensi mereka terhadap hadits diatas.
Misalnya, Al- Hafidz Ibnu Hajar berkata “Abu Ibrahim Az Zuhri adalah termasuk wali badal”. (fathul baari 1/357).                     Ahli hadits yahya Bin Main ditanya siapa wali badal? Beliau menjawab :”kalau Ahmad bin Harb bukan wali badal, maka saya tidak tahu siapa mereka” (Lisan Al Mizan 1/62).
Ibnu Hajar juga meriwayatkan ketika Bilal Al- Khawwash bertemu Nabi Khidir as dan bertanya tentang Imam Syafi’I, maka Nabi Khidir menjawab : “Ia termasuk wali badal”. (Al- Ishabat fii marifat ash- shahabat 1/313).
Imam Ahmad berkata :”Diantara tanda wali badal adalah tidak memiliki anak. Hammad bin Salamat termasuk wali badal, ia tidak memiliki anak”Llisan Al- Mizan 1/415). Imam ahmad bin Hanbal juga termasuk wali badal, setelah beliau wafat digantikan oleh Abu zur’ah (Ibnu abi Ya’la dalam Thabaqat al- Hanabilah 1/78). Imam Ahmad sendiri berkata: “Ma’ruf Al- Khurkhi termasuk wali badal, doanya dikabulkan”(Tabaqat al- Hanabilah 1/154).
Al- Hafidz Adz- Dzahabi (673-748 H/ 1275- 1347 M)
Ahli hadits Al Hafidz adz Dzahabi juga demikian, ia banyak mengutip sosok wali badal dalam banyakj hadits, misalnya tentang ammarbin Muhammad “ kami tidak ragu bahwa dia termasuk wali badal” (Mizan al-I’tidal 3/168). Adz- dzahabi juga mengutip dari imam Syafi’I bahwa Fadil juga termasuk  wali badal (Mizan al- I’tidal 4/384).
Lebih banyak lagi Adz- dzahabi mencatat wali badal dalam       kitabnya Siyar a’lam an- nubala’, seperti yang ia sebutkan :”Ahmad bin hanbal berkata “jika di Baghdad masih ada wali badal, dia adalah Abu Ishaq an Naisaburi” (13/18). Juga Abdullah bin Maslamah adalah termasuk wali badal”(10/262) dan sebagainya. AL Hafidz Al Mizzi  (654-742 H) menyebutkan beberapa sosok wali badal dalam kitab biografi perawi hadits Tahdzib al Kamal, diantaranya adalah Shalih bin Muhammad (15/404), abu zuhrah berkata “Ali bin Abu Bakar termasuk wali badal (20/335), Ibnu al Mubarok berkata : “tidak ada yang tersisa dari wali badal di hijjaz (Makkah sampai madinah) sebelum dikuasai keluarga Saudi, kecuali Fudail bi Iyadh (23/289) dan sebagainya.Inilah sekelumit data dari para ahli hadits dan ketikan menelaah kitan ahli jadits lainnya akan ditemukan ratusan ulama ahli hadits yang menjadi wali badal dan tak dapat dipungkiri.

Menolak Hadits Wali Badal
Ulama yang ingkar terhadap hadits- hadits wali badal adalah Syekh Al- Bani (ulama Wahabi). Namun ia anehnya mengutip banyak pernyataan ahli hadits tentang sosok wali badal dan ia  sama sekali tidak menyanggah, misalnya :”Farwah bin Mujalid, Al Bukhari berkata “para ulama tidak ragu bahwa Farwah adalah

Makhul berkata :ulama syam tidak ragu bahwa Asad adalah termasuk wali badal (silsilah shahihah 3/119),dan sebagainya.
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata “ istilah wali badal bersumber dari hadits, yang sebagiannya shahih dan sebagian lagi tidak shahih. Sedangkan ‘Wali Quthb’ bersumber dari atsar ulama salaf dan istilah ‘Ghouts’ adalah julukan popular dalam kalangan sufi. (Nadzmu Al Mutanatsir 1/220).

Sumber : Ustad Muhammad Ma’ruf Khozin, hujjah ASWAJA PWNU jawa Timur dan ketua LBM NU Surabaya, Komisi Fatwa


Jumat, 10 Mei 2013



لِقَاءُ اْلحِمَامِ
يَا عَيْنُ! قَدْ نِمْتِ، فإستَنْبِهي، مَا
 اجْتَمَعَ اْلخَوْفُ وَطَيبُ اْلمَنَامْ
أكْرَهُ أنْ ألْقَى حِمَامِيْ، وَلاَ بُدَّ لِحَيً مِنْ لِقَاءِ اْلحِمَامْ
لاَ بُدَّ مِنْ مَوْتٍ بِدَارِ اْلبِلَى وَاللهُ بَعْدَ اْلمَوْتِ يُحْيِي اْلعِظَامْ
يَا طَالِبَ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا هَلْ لَكَ فِيْ مُلْكٍ طَويْلِ اْلمُقَامْ؟
مَنْ جَاوَرَ الرَّحْمَنَ، فِيْ دَارِهِ، تَمَّتْ لَهُ النِّعْمَة ُ كُلَّ التّمَامْ
Ajal Menjemput
Duhai mataku, kau telah mengantuk, waspadalah! Bagaimana bisa tidur, sedangkan diriku dalam ketakutan.
Aku takut menemui ajalku, Namun setiap orang pasti menemui ajalnya.
Hidup didunia ini harus ada kematian, namun Allah akan menghidupkan kembali.
Wahai pengejar dunia dan segala kenikmatannya, Apakah kau akan hidup selamanya?
Barangsiapa yang bertemu Yang Maha Pengasih di Surga, Maka cukuplah segala kenikmatan baginya.
بقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى
وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَى سَهِرَاللَّيَالِ
وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَى مِنْ غَيْرِ كَدٍّ
أَضَاعَ الْعُمْرَ فِى طَلَبِ الْمُحَالِ
Apa yang engkau dapatkan tergantung dari apa yang engkau usahakan, barangsiapa ingin mencari ketinggian derajat hendaklah ia bangun malam. Barangsiapa mencari ketinggian derajat tanpa berusaha maka sebenarnya ia telah kehilangan umurnya karena mencari hal yang mustahil.
خَيْرُ اْلمُحَادِثِ وَاْلجَلِيْسِ كِتَابٌ #
تَخْلُوْ بِهِ إِنْ مَلَّكَ اْلأَصْحَابُ
لاَ مُفْشِيًـا سِـرًّا إِذَا اسْتَوْدَعْتَهُ # 
وَتُنـَالُ مِنْهُ حِكْمَةٌ وَ صَوَابٌ

Sebaik-baik teman berbicara dan teman duduk itu adalah buku .. 
Kau bersendirian bersamanya ketika sahabat-sahabatmu telah bosan padamu.
Buku tidak membocorkan rahasia bila kau mengamanahkannya,
dan akan didapatkan darinya hikmah dan kebenaran.



Diambil dari nasehat  Hasan bashri yang mengajak kita untuk merenungi 5 hal yang paling pantas untuk selalu kita cemaskan, antara lain :

1. Ibadah kita
Apakah ibadah kita selama ini cukup pantas untuk diterima ALLAH SWT ataukah jangan-jangan sholat yang begitu banyak kita kerjakan hanyalah gerakan tanpa makna. Dan ataukah puasa dan amal kita hanyalah penghias hasrat semata. Bukankah misi hidup manusia adalah beribadah pada ALLAH? Lalu apa gunanya jika semua ibadah kita tidak diterima oleh ALLAH? Selayaknya kita selalu meminta pada ALLAH untuk memperbaiki ibadah kita dan niat kita hanya untukNYA.

2. Dosa –dosa kita
Sudah berapa banyak dosa yang kita lakukan selama kita hidup? Segala yang besar berasal dari yang kecil. Kadang kita tertipu oleh dosa-dosa kecil, merasa dosa kecil tidaklah terlalu besar dampaknya.padahal semua yang besar berawal dari yang kecil. Bagaimana jika ibadah kita yang pas-pasan senantiasa dikikis oleh dosa yang membesar? Semoga ALLAH senantiasa menjaga kita dari dosa kecil dan dosa besar.

3. Surga dan neraka
Surge dan neraka adalah konsekwensi dan keniscayaan hidup manusia setelah hari penghitungan. Hanya ada dua tempat itulah tempat kita kembali nanti. Sudahkah kita tahu dahsyatnya neraka? Dan sudahkah kita yakin akan kenikmatan surge? Sudahkah kita pantas masuk surge? Dan sudahkah kita yakin bias terhindar dari siksa neraka? Semoga tempat kembali kita adalah tempat terbaik disisi ALLAH SWT

4. Masa lalu dan masa depan
Masa lalu adalah pelajaran berharga yang harus kita ingat baik-baik. Sedangkan masa depan adalah hal yang tidak pernah kita ketahui. Untuk itu setiap hari kita diingatkan oleh ALLAH melalui setiap sholat kita untuk senantiasa diberi petunjuk pada jalan yang lurus.

5. Keridhoan ALLAH atas semua tindakan kita
Dari semua hal yang kita lakukan dahulu, sekarang, maupun yang akan datang adakah kita yakin bahwa semua itu mendatangkan ridho ALLAH? Ataukah hanya hal sekedarnya yang tidak ada nilainya atau bahkan membawa murka ALLAH? Kita perlu senantiasa memperhatikan apa yang sedang dan kita lakukan, bisa jadi hal kecil yang kita lakukan membawa nilai besar disisi ALLAH, baik itu nilai kebaikan maupun nilai keburukan.

Sedikit renungan semoga bermanfaat…

Mencintai Rasulullah
Mencintai Rasullah adalah salah satu ‘kewajiban’ sebagai seorang muslim. Karena melalui Rasulullah lah kita mengenal ALLAH, mengenal tauhid, mengenal ajaran- ajaran islam yang begitu indah. Dapatkah kita bayangkan seandainya tidak ada seorang Rasul yang begitu mulia yang menyampaikan risalah islam pada manusia. Dunia akan tetap berada dalam kegelapan, manusia tetap dan semakin terjerumus dalam kejahiliyahan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra. Bahwa Rasulullah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَاسِ أَجْمَعِيْنَ.  رواه البخاري و مسلم
 Artinya, “Tidak beriman salah-seorang diantara kalian, sehingga aku lebih ia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari-Muslim)
Perkara wajib ini sejalan dengan yang difirmankan Allah Ta’ala,
Artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap    perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65)

Dan seringkali kita berucap “aku mencintai ALLAH dan aku mencintai Rasulullah”. Kalimat yang sepertinya mudah sekali untuk diucapkan. Namun sudahkan kita benar- benar memaknai rasa cinta tersebut?? Sudahkah kita tahu esensi dari “mencintai Rasulullah”. Sudahkah kita mewujudkan rasa cinta itu dalam keseharian kita?
Mari renungi rasa cinta kita pada Rasulullah SAW, sejenak kita simak sebuah kisah tentang siratan dalamnya kecintaan seorang sahabat kepada Baginda Rasulullah SAW, ‘Ukasyah
Satu waktu beberapa hari sebelum kewafatan baginda s.a.w, Ukasyah berkata kepada Rasulullah s.a.w, “Ya Rasulullah, ada satu waktu, tuan ada memukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah tuan sengaja memukul saya atau hendak memukul unta? “Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai Ukasyah, saya sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (Qisas).”
Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu?” Lalu Bilal berkata: “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengambil tongkat beliau. “Kemudian Fatimah berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya?” Berkata Bilal “Wahai Fatimah, Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqisas” Bertanya Fatimah lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqisas Rasulullah?” Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Setelah Fatimah memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal maka beliau pun menyerahkan kepada Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar dan Umar tampil ke depan sambil berkata: “Wahai Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah tetapi kamu qisaslah kami berdua sebagai ganti” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar maka dengan segera beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.”
Kemudian Ali bangun, lalu berkata, “Wahai Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqisaskan Rasulullah” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: “Wahai Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau kamu menqisas kami sama dengan kamu menqisas Rasulullah” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”
Kemudian Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah, tuan telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah pun membuka baju baginda. Setelah Rasulullah membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah Ukasyah melihat tubuh Rasulullah maka dengan segera dia pun memeluk dan mencium baginda dan berkata, “Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukul tuan? Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan tuan yang dimuliakan oleh Allah dengan badan saya. Dan Allah menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu”
Kemudian Rasulullah SAW berkata “dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya”. Lalu orang- orang yang berada disekitarnya berkata “ wahai ‘ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW disyurga”.
Subhanallah, sebuah kisah yang membuat air mata mengalir tiap membacanya. Betapa kecintaan kita pada Rasulullah SAW mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan kecintaaan sahabat ‘Ukasyah dan para sahabat yang lain pada Baginda Rasul.
Rasulullah telah bersabda,

مَا اخْتَلَطَ حُبّي بِقَلْبِ عَبْدٍ اِلَّا حَرَّمَ ا لله جَسَدَهُ عَلَي النَّارِ. (رواه ابو نعم عن ابن عمر)
 “seorang hamba yang mencintaiku sepenuh hatinya, maka ALLAH haramkan jasadnya bagi neraka” (riwayat Abu Na’im melalui Ibnu ‘Umar ra.)

أَشْدُّ اُمَّتِي ِليْ حُبًّا قَوْمٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِيْ, يَوَدُّ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ فَقَدَهُمْ أَهْلَهُ وَمَلَهُ وَأَنَّهُ رَانِيْ (روي أحمد عن أب ذر)
“umatku yang paling mencintaiku adalah kaum yang datang sesudahku, seseorang dari mereka rela kehilangan keluarga dan hartanya asal ia dapat melihat (bersua) denganku” (riwayat Ahmad melalui Abu Dzar ra.)
Rekan-rekanita fillah, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memperdalam mahabbah kita pada Baginda Rasulullah SAW. Beberapa diantaranya adalah dengan mengenal lebih jauh siapa Rasulullah, bagaimana kepribadian dan akhlak beliau yang begitu mulia, bagaimana beratnya perjalanan jihad dan dakwah beliau. Untuk mengetahui lebih mengenal Rasulullah kita dapat belajar melalui kitab-kitab yang dikarang oleh para ‘ulama salafusshalih, sirah nabawi, serta dengan membaca hadits.
Selain itu, kita juga harus amalkan amalan-amalan yang diajarkan oleh Beliau dan para ‘ulama serta meneladani kepribadian dan sikap Beliau SAW.
Disamping  itu, jangan pernah ketinggalan untuk bersholawat atas Nabi. Sering –sering mengingat ALLAH dan Rasulullah, karena barang seseorang akan selalu mengingat dan menyebut siapa yang dicintainya.
Abu Hurairah ra.berkata,
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ …     رواه التّرم
Artinya, “Rasulullah saw pernah bersabda, “Celakalah orang yang mendengar namaku disebut tetapi ia tidak mau bersholawat kepadaku,…” (HR. at-Tirmidzi)
Dari Tsauban ra. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan:
رَضِيْتُ بِا اللهِ رَبًّا, وَ بِالْإِسْلَامِ دِيْنًا, وَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَبِيًّا.
 (رواه التّرمذي)
 “Aku ridho Allah SWT sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku”, maka ada hak atas Allah untuk meridhoinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Yang harus  kita ketahui bahwa ALLAH yang menciptakan seluruh makhluk dialam semesta yang begitu luas ini pun memuliakan Baginda Rasulullah. Sebelum ALLAH menciptakan alam semesta ini, ALLAH telah menciptakan nur Baginda Rasulullah terlebih dahulu dan alam semesta ini tidak akan ada jika ALLAH tidak menciptakan nur Baginda Rasulullah. Dan dari seluruh alam semesta ini hanya nama Rasulullah Muhammad yang bersanding dengan nama ALLAH SWT.
Semoga ALLAH menumbuhkan dan senantiasa menjaga rasa mahabbah kita kepada Rasulullah SAW. Mari kita lebih mengenal Rasulullah, mari tauladani kepribadian dan akhlak Beliau, dan tak lupa untuk memperbanyak sholawat atas nabi.
Shollu ‘alannabi Muhammad…
Wallahu warosuluhu ‘alam.