Selamat Datang Di Blogg Resmi Jam'iyyah Al Ittihadiyah --- KHUSUS UNTUK BULETIN DA'I AL ITTIHADIYAH ---

Jumat, 10 Mei 2013

Kajian Utama Edisi Vol. 55 Rabiul Tsani1434H/Pebruari 2013 Th.ke-6

Mencintai Rasulullah
Mencintai Rasullah adalah salah satu ‘kewajiban’ sebagai seorang muslim. Karena melalui Rasulullah lah kita mengenal ALLAH, mengenal tauhid, mengenal ajaran- ajaran islam yang begitu indah. Dapatkah kita bayangkan seandainya tidak ada seorang Rasul yang begitu mulia yang menyampaikan risalah islam pada manusia. Dunia akan tetap berada dalam kegelapan, manusia tetap dan semakin terjerumus dalam kejahiliyahan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra. Bahwa Rasulullah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَاسِ أَجْمَعِيْنَ.  رواه البخاري و مسلم
 Artinya, “Tidak beriman salah-seorang diantara kalian, sehingga aku lebih ia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari-Muslim)
Perkara wajib ini sejalan dengan yang difirmankan Allah Ta’ala,
Artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap    perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65)

Dan seringkali kita berucap “aku mencintai ALLAH dan aku mencintai Rasulullah”. Kalimat yang sepertinya mudah sekali untuk diucapkan. Namun sudahkan kita benar- benar memaknai rasa cinta tersebut?? Sudahkah kita tahu esensi dari “mencintai Rasulullah”. Sudahkah kita mewujudkan rasa cinta itu dalam keseharian kita?
Mari renungi rasa cinta kita pada Rasulullah SAW, sejenak kita simak sebuah kisah tentang siratan dalamnya kecintaan seorang sahabat kepada Baginda Rasulullah SAW, ‘Ukasyah
Satu waktu beberapa hari sebelum kewafatan baginda s.a.w, Ukasyah berkata kepada Rasulullah s.a.w, “Ya Rasulullah, ada satu waktu, tuan ada memukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah tuan sengaja memukul saya atau hendak memukul unta? “Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai Ukasyah, saya sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (Qisas).”
Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu?” Lalu Bilal berkata: “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengambil tongkat beliau. “Kemudian Fatimah berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya?” Berkata Bilal “Wahai Fatimah, Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqisas” Bertanya Fatimah lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqisas Rasulullah?” Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Setelah Fatimah memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal maka beliau pun menyerahkan kepada Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar dan Umar tampil ke depan sambil berkata: “Wahai Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah tetapi kamu qisaslah kami berdua sebagai ganti” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar maka dengan segera beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.”
Kemudian Ali bangun, lalu berkata, “Wahai Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqisaskan Rasulullah” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: “Wahai Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau kamu menqisas kami sama dengan kamu menqisas Rasulullah” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”
Kemudian Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah, tuan telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah pun membuka baju baginda. Setelah Rasulullah membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah Ukasyah melihat tubuh Rasulullah maka dengan segera dia pun memeluk dan mencium baginda dan berkata, “Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukul tuan? Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan tuan yang dimuliakan oleh Allah dengan badan saya. Dan Allah menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu”
Kemudian Rasulullah SAW berkata “dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya”. Lalu orang- orang yang berada disekitarnya berkata “ wahai ‘ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW disyurga”.
Subhanallah, sebuah kisah yang membuat air mata mengalir tiap membacanya. Betapa kecintaan kita pada Rasulullah SAW mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan kecintaaan sahabat ‘Ukasyah dan para sahabat yang lain pada Baginda Rasul.
Rasulullah telah bersabda,

مَا اخْتَلَطَ حُبّي بِقَلْبِ عَبْدٍ اِلَّا حَرَّمَ ا لله جَسَدَهُ عَلَي النَّارِ. (رواه ابو نعم عن ابن عمر)
 “seorang hamba yang mencintaiku sepenuh hatinya, maka ALLAH haramkan jasadnya bagi neraka” (riwayat Abu Na’im melalui Ibnu ‘Umar ra.)

أَشْدُّ اُمَّتِي ِليْ حُبًّا قَوْمٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِيْ, يَوَدُّ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ فَقَدَهُمْ أَهْلَهُ وَمَلَهُ وَأَنَّهُ رَانِيْ (روي أحمد عن أب ذر)
“umatku yang paling mencintaiku adalah kaum yang datang sesudahku, seseorang dari mereka rela kehilangan keluarga dan hartanya asal ia dapat melihat (bersua) denganku” (riwayat Ahmad melalui Abu Dzar ra.)
Rekan-rekanita fillah, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memperdalam mahabbah kita pada Baginda Rasulullah SAW. Beberapa diantaranya adalah dengan mengenal lebih jauh siapa Rasulullah, bagaimana kepribadian dan akhlak beliau yang begitu mulia, bagaimana beratnya perjalanan jihad dan dakwah beliau. Untuk mengetahui lebih mengenal Rasulullah kita dapat belajar melalui kitab-kitab yang dikarang oleh para ‘ulama salafusshalih, sirah nabawi, serta dengan membaca hadits.
Selain itu, kita juga harus amalkan amalan-amalan yang diajarkan oleh Beliau dan para ‘ulama serta meneladani kepribadian dan sikap Beliau SAW.
Disamping  itu, jangan pernah ketinggalan untuk bersholawat atas Nabi. Sering –sering mengingat ALLAH dan Rasulullah, karena barang seseorang akan selalu mengingat dan menyebut siapa yang dicintainya.
Abu Hurairah ra.berkata,
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ …     رواه التّرم
Artinya, “Rasulullah saw pernah bersabda, “Celakalah orang yang mendengar namaku disebut tetapi ia tidak mau bersholawat kepadaku,…” (HR. at-Tirmidzi)
Dari Tsauban ra. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan:
رَضِيْتُ بِا اللهِ رَبًّا, وَ بِالْإِسْلَامِ دِيْنًا, وَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَبِيًّا.
 (رواه التّرمذي)
 “Aku ridho Allah SWT sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku”, maka ada hak atas Allah untuk meridhoinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Yang harus  kita ketahui bahwa ALLAH yang menciptakan seluruh makhluk dialam semesta yang begitu luas ini pun memuliakan Baginda Rasulullah. Sebelum ALLAH menciptakan alam semesta ini, ALLAH telah menciptakan nur Baginda Rasulullah terlebih dahulu dan alam semesta ini tidak akan ada jika ALLAH tidak menciptakan nur Baginda Rasulullah. Dan dari seluruh alam semesta ini hanya nama Rasulullah Muhammad yang bersanding dengan nama ALLAH SWT.
Semoga ALLAH menumbuhkan dan senantiasa menjaga rasa mahabbah kita kepada Rasulullah SAW. Mari kita lebih mengenal Rasulullah, mari tauladani kepribadian dan akhlak Beliau, dan tak lupa untuk memperbanyak sholawat atas nabi.
Shollu ‘alannabi Muhammad…
Wallahu warosuluhu ‘alam.




 


0 komentar:

Posting Komentar